AKU
Kalau
sampai waktuku
‘Ku mau
tak seorang kan merayu
Tidak
juga kau
Tak perlu
sedu sedan itu
Aku ini
binatang jalang
Dari
kumpulannya terbuang
Biar
peluru menembus kulitku
Aku tetap
meradang menerjang
Luka dan
bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga
hilang pedih peri
Dan aku
akan lebih tidak perduli
Aku mau
hidup seribu tahun lagi
Maret
1943
DOA
kepada
pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam
termangu
Aku masih
menyebut namamu
Biar
susah sungguh
mengingat
Kau penuh seluruh
cayaMu
panas suci
tinggal
kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku
hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku
mengembara di negeri asing
Tuhanku
di
pintuMu aku mengetuk
aku tidak
bisa berpaling
13
November 1943
HAMPA
kepada
sri
Sepi di
luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus
kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke
puncak. Sepi memagut,
Tak satu
kuasa melepas-renggut
Segala
menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah
ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung
punda
Sampai
binasa segala. Belum apa-apa
Udara
bertuba. Setan bertempik
Ini sepi
terus ada. Dan menanti
SAJAK
PUTIH
Bersandar
pada tari warna pelangi
Kau
depanku bertudung sutra senja
Di hitam
matamu kembang mawar dan melati
Harum
rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi
menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak
muka air kolam jiwa
Dan dalam
dadaku memerdu lagu
Menarik
menari seluruh aku
Hidup
dari hidupku, pintu terbuka
Selama
matamu bagiku menengadah
Selama
kau darah mengalir dari luka
Antara
kita Mati datang tidak membelah…
CINTAKU
JAUH DI PULAU
Cintaku
jauh di pulau,
gadis
manis, sekarang iseng sendiri
Perahu
melancar, bulan memancar,
di leher
kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin
membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak
‘kan sampai padanya.
Di air
yang tenang, di angin mendayu,
di
perasaan penghabisan segala melaju
Ajal
bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan
perahu ke pangkuanku saja,”
Amboi!
Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu
yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa
Ajal memanggil dulu
Sebelum
sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku
jauh di pulau,
kalau ‘ku
mati, dia mati iseng sendiri.
1946
DERAI
DERAI CEMARA
cemara
menderai sampai jauh
terasa
hari akan jadi malam
ada
beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul
angin yang terpendam
aku
sekarang orangnya bisa tahan
sudah
berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu
memang ada suatu bahan
yang
bukan dasar perhitungan kini
hidup
hanya menunda kekalahan
tambah
terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu,
ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum
pada akhirnya kita menyerah
1949
Ditulis Oleh : Takerubun
Anda sedang membaca artikel tentang Kumpulan Puisi Chairil Anwar . Oleh MTakerubun, Blogger asal Evav Maluku Tenggara. Semoga artikel ini bermanfaat. Anda diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini tapi jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya
